cerita dewasa

Gadis MetroPolitan

Bagi semua insan yang hidup di alam semesta ini dituntut untuk memperbaiki nasib dan berbuat baik kepada sesamanya, di samping tujuan  utama bersujud kepada Tuhan. Untuk beberapa saat Irena memperhatikan pohon flamboyan yang berbunga molek. Kemudian bunga mawar di antara bunga-bunga lainnya yang tumbuh di taman itu. Irena menoleh jam beker kecil di atas meja. Hari masih pagi di mana sebagian orang masih sibuk di rumah masing-masing.
Pohon mangga yang tumbuh di samping halaman rumah sudah mulai berbuah, pertanda musim dingin telah tiba. Tak mengherankan lagi jika musim dingin tiba, sebagian banyak orang akan malas bangun tidur. Seperti halnya Rifal yang saat ini masuk memeluk guling dan terlelap di pembaringan.
Irena mengalihkan pandangan ke arah suaminya seraya tersenyum. Sejak Irena menempati rumah baru ini, kelihatan sibuk sekali mengatur rumah tangga. Ayah Rifal menghadiahkan kepada mereka sebuah rumah mewah beserta perabotan dan sebuah mobil Honda Civic putih.

Rifal, Irena pembantunya yang setia mbok Minah pindah ke rumah baru selang seminggu yang lalu. Anak pertama Rifal dan Irena diberi nama : Aryana Katrin. Mbok Minah mengurus Aryana dengan penuh kasih sayang. Malah Irena jarang sekali menggendong atau meninabobokkan anaknya. Dari usia dua bulan Irena tidak lagi menyusui anaknya, sebagai penggantinya Aryana diberi minum susu Laktona. Meski demikian pertumbuhan badan Aryana berkembang pesat. Badan aryana semakin gemuk dan sudah mulai merangkak. Sementara Rifal dan Irena bagai pengantin baru yang susah dipisahkan. Selalu berduaan di setiap tempat dan  mencurahkan cinta kasih sepenuh hati tanpa ada problem lagi yang merintangi.
Irena melihat Rifal baru saja membuka matanya, sembari menggeliat malas. Kemudian Irena berjalan mendekati tempat pembaringan dan duduk di pinggir.
“Bangun mas, nanti kau terlambat masuk sekolah,” kata Irena lembut.
“Oh iya, aku hampir lupa jika hari ini aku jadi anak pelajar lagi!” jawab Rifal tersenyum renyah sembari bangkit dari tidurnya.
Di pandangnya langit melalui jendela kamarnya yang terbuka, di mana dijumpai mentari telah menampakkan diri dan langit sebelah timur diguyur warna keemasan. Perlahan-lahan Rifal turun dari tempat tidur dan menuju ke cermin. Irena segera merapihkan tempat tidur yang spraynya acak-acakan.
“Kau sudah menjenguk Ary?” tanya Rifal sambil menyisir rambut di depan cermin.
“Belum!” jawab Irena singkat. Irena membetulkan bantal yang di tumpuk secara rapi.
“Biasanya mbok Minah sebelum matahari terbit sudah mengajak Aryana berjalan-jalan untuk mencari udara segar. . . .” sambung Irena. Rifal mengambil handuk bersih dari dalam lemari, lalu berjalanke arah kamar mandi. Di ruang tengah ia berpapasan dengan mbok Minah yang tengah menggendong Aryana. Rifal menghentikan langkahnya di depan mbok Minah. Pipi Aryana yang halus gemuk itu diciuminya sayang.
“Ary sudah sarapan pagi mbok?”
“Baru saja selesai den. Makannya bubur sekarang tambah banyak!” mbok Minah menerangkan dengan gembira. Rifal tersenyum, lalu mencium pipi Aryana lagi. Si kecil menarik-narik rambut ayahnya kala dicium.
“Ary enggak boleh nakal ya?” Aryana meronta-ronta karena merasa gerah dicium ayahnya. Sesaat Irena berjalan ke luar dari dalam kamar tidur, melihat Rifal belum juga pergi mandi cepat-cepat ditegurnya.
“Mas, cepatlah kau mandi, nanti terlambat masuk sekolah.” Rifal menoleh kebelakang, lalu berjalan ke kamar mandi. Melihat Irena, tangan Aryana menggapai-gapai ingin minta di gendong ibunya. Si kecil yang lucu dan menyenangkan itu melonjak-lonjak ketika Irena sudah berdiri de depannya.
“Siapkan sarapan pagi den Rifal mbok, biar aku yang mengajak bermain Aryana.” Setelah menyerahkan Aryana kepada ibunya mbok Minah berjalan ke dapur. Sarapan pagi segera dipersiapkan untuk den bagusnya. Kegemaran den bagusnya mbok Minah paling tahu. Telur dadar mata sapi dan kecap yang dicampur sambal. Rifal tak lama kemudian sudah berdandan rapi, kemeja putih dan celana biru tua. Meskipun Rifal sudah menikah dengan mengenakan pakaian seragam sekolah dan menjinjing tas persis remaja yang masih ingusan. Irena melihat Rifal mengenakan pakaian seragam sekolah jadi tersenyum.
“Papamu kembali jadi perjaka, Ary!” kata Irena kepada Aryana, namun bermaksud menyinggung Rifal. Lelaki berwajah ganteng itu tersenyum. Ditarik kursi makan ke belakang lalu Rifal duduk.
“Kalau saja papa tidak memaksa aku sekolah lagi dengan mengikuti ujian tahun ini, aku lebih sengan di rumah!” kata Rifal malas sambil menyendok nasi.
“Kurasa papa benar, Mas. Kalau kau tidak memiliki ijazah SMA akan banyak menemui kesulitan.” Irena segera menimpali. Rifal mendorong sendok yang berisi nasi dan potongan telur goreng ke mulutnya. Aryana bermain di lantai dengan ibunya. Mbok Minah datang membawa segelas kopi susu, kemudian diletakkan persis di depan Rifal.
“Yah. . . aku tak mengelak. Apalagi rencana papa aku akan dikirim ke Amerika untuk memperdalam soal managemen. Akan tetapi aku merasa canggung menghadapi teman-teman di sekolah.”
“Ya, sebab engkau bukan lagi yang dahulu, sudah menjadi seorang ayah.”
“Karena itulah aku harus dituntut untuk bisa memperankan dua sikap. Sebagai seorang ayah jika berada di rumah, lain lagi jika berada di  sekolah.”
“Kalau di sekolah jadi perjaka ingusan!” sela Irena sambil tersenyum ngeledek. Nada ucapan Irena setengah menertawakan Rifal, membuat lelaki muda itu menoleh ke arahnya. Rifal pun jadi ikut tersenyum kecut. Gelas yang berisi kopi susu diangkatnya dan sekali tenggak kopi susu di dalam gelas itu telah ludes. Bersamaan di letakkan gelas yang telah kosong itu, Rifal bangkit dari tempat duduknya. Tas sekolah yang semula di taruh di atas meja langsung disambar dan bergayut di pundak.
Sebelum Rifal berangkat, dicium pipi Aryana sekilas lalu berpindah ke pipi ibunya.
“Papa berangkat sekolah dahulu ya?” Rifal berkata halus akan tetapi terasa lucu kedengarannya, membuat Irena tersenyum geli.
“Lucukan. . .? Seorang ayah masih sekolah di bangku SMA.”
“Anggap saja papa badut.” Irena tersenyum tambah lebar. Dari pipi berpindah ciuman di kening Irena.
“Selamat belajar pa.”
Desis Irena merapatkan badannya pada Rifal. Betapa damai dan bahagia hati Irena karena Rifal begitu memperhatikan  cinta kasih sepenuh hati. Di saat ke luar dari dalam rumah pak Hasan sopir pribadi telah siap dengan mobilnya. Mobil melaju perlahan-lahan di mana Rifal sempat melambaikan tangan kepada istri dan anak-anaknya. Irena masih tetap memperhatikan terus sampai mobil yang di tumpangi suaminya lenyap di belokan jalan.
Hari itu merupakan permulaan bagi Rifal menginjakkan kembali di bangku SMA kelas terakhir. Sebetulnya Irena merasa enggan jika ditinggalkan suaminya pergi. Kebahagiaannya bila Rifal berkumpul di rumah. Namun kemudian Irena mengerti, tidak mungkin dia akan mempertahankan suaminya untuk tetap tinggal di rumah hanya sekedar kepentingan perasaan dan cinta kasih semata. Rifal dari mulai sekarang harus berjuang untuk mendapatkan Tanda Tamat Belajar. Dengan berhasilnya Rifal memperoleh ijasah tersebut, tidak akan menemui kesulitan melanjutkan study di negeri orang. Sebab pada kesimpulannya Rifal harus menggantikan kedudukan ayahnya setelah ia berhasil memperdalam di bidang manajemen.
Dan kesimpulan Irena semakin mantap, hidup berumah tangga tidak hanya cukup untuk bercinta.

Post Terkait